Demonstrasi yang kondusif
Oleh: Djoko Iriandono*)
Dalam beberapa hari terakhir, Indonesia kembali diwarnai oleh gelombang demonstrasi mahasiswa di berbagai daerah. Isu yang menjadi pemicu utama adalah kenaikan harga BBM non-subsidi jenis Pertamax yang cukup signifikan. Di berbagai kota, mahasiswa turun ke jalan menyampaikan aspirasi mereka, menuntut pemerintah menurunkan harga BBM, memperbaiki kondisi ekonomi, menjaga stabilitas nilai rupiah, serta mengevaluasi sejumlah kebijakan yang dianggap membebani masyarakat.
Sebagai bangsa yang menganut sistem demokrasi, penyampaian aspirasi merupakan hak yang dijamin oleh konstitusi. Mahasiswa sebagai bagian dari elemen masyarakat memiliki hak untuk menyuarakan pendapat dan memberikan masukan terhadap kebijakan pemerintah. Bahkan dalam sejarah bangsa Indonesia, mahasiswa sering kali menjadi kekuatan moral yang mengingatkan para pemimpin ketika melihat adanya persoalan yang perlu mendapatkan perhatian.
Namun di tengah situasi tersebut, muncul pertanyaan yang penting untuk direnungkan bersama: bagaimana seharusnya seorang Muslim menyikapi kebijakan pemerintah yang dianggap tidak sesuai dengan harapan masyarakat? Apakah setiap kebijakan harus didukung tanpa kritik? Ataukah setiap kebijakan harus dilawan melalui demonstrasi dan kecaman?
Islam memberikan panduan yang sangat jelas dalam persoalan ini melalui konsep ketaatan kepada ulil amri.
Allah SWT berfirman:
"Wahai orang-orang yang beriman! Taatilah Allah dan taatilah Rasul (Muhammad), dan ulil amri di antara kamu." (QS. An-Nisa: 59)
Ayat ini menunjukkan bahwa keberadaan pemimpin merupakan bagian dari sistem kehidupan yang harus dihormati. Tanpa adanya pemimpin yang ditaati, kehidupan masyarakat akan dipenuhi kekacauan, konflik, dan ketidakpastian. Oleh karena itu, Islam mengajarkan pentingnya menjaga stabilitas sosial dan menghormati pemerintahan yang sah.
Para ulama menjelaskan bahwa ketaatan kepada ulil amri bukan sekadar urusan politik, melainkan bagian dari menjaga kemaslahatan umat. Dalam banyak hadis, Rasulullah SAW juga mengingatkan umat Islam agar tidak mudah memberontak, menghasut, atau menciptakan kekacauan yang dapat merusak persatuan masyarakat.
Dalam konteks Indonesia hari ini, ketika pemerintah menghadapi tekanan ekonomi global, gejolak harga energi dunia, serta berbagai tantangan fiskal, tentu tidak semua kebijakan yang diambil dapat memuaskan seluruh lapisan masyarakat. Kenaikan harga Pertamax, misalnya, menurut pemerintah dilakukan karena meningkatnya tekanan terhadap anggaran negara dan kenaikan harga energi dunia. Harga Pertamax naik dari sekitar Rp12.300 menjadi Rp16.250 per liter atau lebih dari 30 persen.
Bagi sebagian masyarakat, kebijakan tersebut terasa berat. Para pekerja yang menggunakan kendaraan pribadi merasakan langsung peningkatan biaya transportasi. Mahasiswa dan kelompok masyarakat lainnya khawatir kenaikan BBM akan berdampak pada naiknya harga kebutuhan pokok dan memperberat beban hidup masyarakat. Kekhawatiran inilah yang kemudian melahirkan berbagai aksi demonstrasi di sejumlah daerah.
Namun demikian, Islam mengajarkan bahwa perbedaan pandangan terhadap suatu kebijakan tidak boleh menghilangkan adab dan akhlak. Kritik boleh disampaikan, aspirasi boleh diperjuangkan, tetapi semuanya harus dilakukan dengan cara yang bermartabat, santun, dan tidak merusak ketertiban umum.
Sayangnya, di era media sosial saat ini, kritik sering kali berubah menjadi cacian. Banyak orang yang merasa paling benar tanpa memahami persoalan secara utuh. Sebagian bahkan menyebarkan informasi yang belum tentu benar, menghina pemimpin, dan membangun opini yang dapat menimbulkan kebencian di tengah masyarakat.
Padahal Islam membedakan secara tegas antara nasihat dan penghinaan.
Nasihat bertujuan untuk memperbaiki. Nasihat lahir dari kepedulian dan rasa cinta kepada bangsa serta masyarakat. Sebaliknya, penghinaan lahir dari kemarahan, kebencian, dan keinginan menjatuhkan pihak lain. Nasihat membangun, sedangkan penghinaan merusak.
Dalam sejarah Islam, para ulama besar sering memberikan kritik kepada para penguasa. Akan tetapi, kritik tersebut disampaikan dengan ilmu, adab, dan tanggung jawab. Mereka tidak menghasut masyarakat untuk membenci pemimpinnya. Mereka juga tidak menjadikan kritik sebagai sarana mencari popularitas.
Oleh sebab itu, ketika melihat aksi demonstrasi mahasiswa hari ini, masyarakat perlu menyikapinya secara proporsional. Di satu sisi, aspirasi yang disampaikan mahasiswa merupakan bagian dari kehidupan demokrasi yang harus dihormati. Bahkan pemerintah melalui juru bicaranya menyatakan bahwa demonstrasi merupakan bagian dari proses demokrasi dan pemerintah mendengarkan berbagai masukan dari masyarakat.
Di sisi lain, para mahasiswa dan seluruh elemen masyarakat juga perlu memastikan bahwa kritik yang disampaikan benar-benar bertujuan untuk memperbaiki keadaan, bukan sekadar melampiaskan kemarahan atau membangun kebencian terhadap pemerintah.
Kita harus menyadari bahwa persoalan ekonomi bangsa tidak sesederhana yang terlihat. Melemahnya nilai tukar rupiah, kenaikan harga energi dunia, tekanan fiskal negara, serta perlambatan ekonomi global merupakan tantangan yang dihadapi banyak negara, bukan hanya Indonesia. Pemerintah tentu memiliki pertimbangan tertentu ketika mengambil kebijakan yang mungkin tidak populer di mata masyarakat.
Karena itu, diperlukan kedewasaan dalam menyikapi setiap kebijakan publik. Kritik yang baik harus disertai solusi. Tuntutan yang disampaikan harus berdasarkan data dan analisis yang objektif. Dan yang terpenting, semua pihak harus mengedepankan kepentingan bangsa di atas kepentingan kelompok atau golongan.
Lebih dari itu, umat Islam memiliki senjata yang sering dilupakan, yaitu doa. Ketika melihat pemimpin melakukan kekeliruan, kita dianjurkan untuk menasihati dan mendoakannya agar diberikan petunjuk. Ketika melihat negeri menghadapi kesulitan ekonomi, kita diperintahkan untuk berikhtiar sekaligus memohon pertolongan Allah SWT.
Tidak ada satu pun bangsa yang akan maju jika rakyatnya hanya pandai mencela. Sebaliknya, tidak ada pula bangsa yang akan berkembang jika pemerintah menutup diri terhadap kritik dan masukan. Kemajuan hanya akan lahir ketika pemerintah dan masyarakat sama-sama memiliki niat yang baik untuk membangun negeri.
Karena itu, marilah kita menjaga keseimbangan. Tetaplah taat kepada ulil amri selama tidak diperintahkan kepada kemaksiatan. Hormatilah para pemimpin yang sedang mengemban amanah negara. Namun pada saat yang sama, sampaikanlah kritik dan masukan dengan cara yang santun, beradab, dan bertanggung jawab.
Indonesia tidak membutuhkan lebih banyak kebencian. Indonesia membutuhkan lebih banyak kebijaksanaan. Kita tidak membutuhkan lebih banyak cacian. Kita membutuhkan lebih banyak solusi. Dan kita tidak membutuhkan pertentangan yang berkepanjangan. Kita membutuhkan persatuan untuk menghadapi berbagai tantangan yang sedang dihadapi bangsa.
Semoga Allah SWT senantiasa membimbing para pemimpin negeri ini dalam mengambil kebijakan yang terbaik bagi rakyatnya, serta memberikan kepada seluruh masyarakat Indonesia kebijaksanaan dalam menyampaikan kritik, menjaga persatuan, dan membangun negeri dengan semangat ukhuwah serta tanggung jawab bersama.
*) Kominfo BPIC Kaltim