Ibadah kurban adalah bentuk ketaatan manusia kepada Allah dan dampaknya dirasakan oleh manusia lain, tepatlah bahwa ibadah kurban adalah bentuk penghambaan seorang hamba kepada Tuhan, semata-mata kurban yang dikeluarkan untuk mengharap keridhaan-Nya.
Jakarta, www.istiqlal.or.id - Dalam Al-Qur’an Surah Al-Hajj ayat 37 “Daging-daging unta dan darahnya itu sekali-kali tidak dapat mencapai (keridhaan) Allah, tetapi ketakwaan dari kamulah yang dapat mencapainya”.
Dalam Tafsir Ibnu Katsir menjelaskan makna dari ayat tersebut bahwa berdasarkan asbabul nuzul; Ibnu Abu Hatim mengatakan, telah menceritakan kepada kami Ali Ibnul Husein, telah menceritakan kepada kami Muhammad Ibnu Abu Hammad, telah menceritakan kepada kami Ibrahim Ibnul Mukhtar, dari Ibnu Jaraij yang mengatakan bahwa orang-orang jahiliah dimasa silam memuncratkan darah hewan kurban mereka ke Baitullah, juga daging hewan kurban mereka. Maka para sahabat Rasulullah SAW berkata; kami lebih berhak melakukan hal tersebut. “Kemudian Allah subhanahu wata'ala menurunkan firman-Nya “Daging-daging unta dan darahnya itu sekali-kali tidak dapat mencapai (keridhaan) Allah, tetapi ketakwaan dari kalianlah yang dapat mencapainya”. Yakni karena ketakwaan kalianlah Allah menerimanya dan memberikan balasan kebaikan kepada pelakunya.
Ibadah kurban merupakan syariat yang dibawa oleh Rasulullah SAW, selain itu juga untuk memperbaiki keimanan umatnya. Ini dibuktikan dari kisah diatas bahwa masyarakat Arab jahiliah melakukan kurban dengan memuncratkan darah dan daging hewan kurban ke arah Baitullah, perbuatan ini dalam rangka membesarkan pemilik Baitullah.
Tetapi syariat yang dibawa Nabi Muhammad SAW memperbaiki kebiasaan bangsa Arab jahiliah, daging hewan bukan diberikan ke Baitullah tetapi “Makanlah sebagian dari daging kurban dan berikanlah kepada orang fakir” (QS. al-Hajj : 28) dan hadis Rasulllah SAW “Jika diantara kalian berkurban, maka makanlah sebagian kurbannya (HR. Ahmad).
Syariat yang dibawa oleh nabi Muhammad (Islam) memperbaiki kembali syariat yang dibawa oleh Nabi Ibrahim (Hanif), ketika Allah subhanahu wata'ala mengganti kurban Nabi Ibrahim a.s. yakni Nabi Ismail a.s. berupa hewan kambing (kibas) maka Nabi Ibrahim a.s. bersyukur kepada Allah subhanahu wata'ala dengan menyembelih 1000 kambing, 300 lembu dan 100 unta yang diberikan untuk umatnya.
Jadi hewan yang dikurbankan bukan diberikan ke Baitullah tetapi diberikan kepada kaum fakir dan miskin. Ini juga yang dilakukan oleh Rasulullah SAW untuk memperbaiki adat masyarakat jahiliah bahwa hewan kurban bukan diberikan ke Baitullah tetapi diberikan kepada ciptaan Allah subhanahu wata'ala yakni manusia dalam rangka memberikan kegembiraan dengan menyantap hewan kurban.
Ini sebagai bukti bahwa Allah subhanahu wata'ala tidak menerima sesembahan manusia dengan sesuatu (darah dan hewan kurban) tetapi yang Allah subhanahu wata'ala terima adalah hewan yang dikurbankan untuk kembali dimakan oleh yang berkurban dan disedekahkan kepada fakir miskin.
Bukti ketundukan seorang hamba kepada Tuhannya adalah mengeluarkan hewan kurban, sebagaimana firman Allah dalam Al-Qur'an surat Al-Kautsar ayat 2,
فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْۗ
Artinya: “maka laksanakan shalat karena tuhanmu dan berkurbanlah”. (QS. Al-Kautsar ayat 2)
Perintah berkurban disandingkan dengan perintah shalat. Allah subhanahu wata’ala perintahkan kalau kamu menyembah Aku jangan lupa untuk bermualah dengan manusia (yakni berkurban).
Hablumminallah dan hablumminaas seperti 2 (dua) mata uang, salah satunya tidak ada maka uang itu tidak laku begitu juga hubungan kepada tuhan dan manusia kalau salah satunya tidak ada maka keberadaan manusia tidak lengkap. Inilah makna bahwa semakin tinggi kehidupan seseorang maka harus seimbang antara hubungan dengan Tuhan dan manusia.
Ibadah kurban adalah bentuk ketaatan manusia kepada Tuhan dan dampaknya dirasakan oleh manusia yang lain, tepatlah bahwa ibadah kurban adalah bentuk penghambaan seorang hamba kepada Tuhan, semata-mata kurban yang dikeluarkan untuk mengharap keridhaan-Nya. Tepatlah perkataan Kurbanku untuk-Mu bukan untuk yang lain. Wallahu a’lam. (ZSQ/Humas dan Media Masjid Istiqlal)
Sumber: https://istiqlal.or.id/blog/detail/hikmah--kurbanku-untuk-mu.html