Detail Update

Detail Update

"FLEXING", Pamer atau Mendorong Potensi?

Card image cap

Oleh : Djoko Iriandono, S.E., M.A.*)

Pada akhir-akhir ini baik di TV maupun di media sosial telah viral kata "flexing". Apa sesungguhnya arti kata flexing ini sehingga banyak diantara pejabat kita yang dicopot dari jabatannya dan bahkan sampai ada yang diperiksa, kemudian dijadikan terdakwa, tersangka dan pada akhirnya dimasukkan penjara gara-gara dirinya, istri/suaminya atau keluarganya yang suka flexing di sosial media.

 “Flexing” berasal dari bahasa Inggris yang berarti “pamer". Istilah ini telah menjadi semakin umum dalam budaya sosial media saat ini. Istilah ini merujuk pada tindakan seseorang memamerkan kekayaan material, prestasi, atau gaya hidup mewahnya kepada orang lain dengan tujuan untuk mendapatkan pengakuan, pujian, atau mengesankan orang lain. Namun, fenomena ini memiliki implikasi yang lebih dalam dan kompleks yang perlu kita tinjau secara lebih kritis.

Dalam era media sosial yang berkembang pesat, kita sering kali mendengar istilah "flexing". Istilah ini digunakan untuk menggambarkan tindakan seseorang yang memamerkan kekayaan, prestasi, atau penampilan mereka kepada orang lain. Namun, di balik kesan negatif yang sering melekat pada kata ini, sebenarnya terdapat beragam sudut pandang dan makna yang terkait dengan fenomena "flexing". Dalam esai ini, kita akan mengeksplorasi berbagai sisi dari flexing, mencoba memahami motivasi dan implikasinya dalam konteks masyarakat saat ini.

Istilah flexing ini dahulunya sering digunakan oleh kalangan akademisi. Pada acara seminar biasanya moderator mengawali dengan memperkenalkan para narasumber dengan menyebutkan latar belakang pendidikannya, karya akademis dan prestasi-prestasi lainnya dengan tujuan agar para audien (peserta seminar) merasa lebih tertarik untuk mengikuti dan memperhatikan materi yang dijelaskannya. Hal ini mempunyai nilai yang positif karena bermaksud untuk memotivasi para audien. Namun istilah ini sekarang bergeser lebih menuju ke arah negatif karena yang dipamerkan adalah kekayaan dan kegiatan sehari-hari yang menunjukkan gaya hidup mewah dengan menghabiskan banyak uang seperti berlibur ke luar negeri, pembelian mobil mewah, pakaian, tas dan lain-lain.

Dalam konteks sosial media, flexing telah menjadi bentuk ekspresi diri bagi beberapa individu. Mereka menggunakan platform ini untuk membagikan pencapaian mereka, berbagi momen hidup yang terlihat sempurna, dan menunjukkan apa yang mereka miliki. Sebagai manusia, keinginan kita untuk mendapatkan pengakuan dan validasi sosial adalah hal yang wajar. Flexing seringkali dianggap sebagai cara untuk mencapai hal ini, tetapi kita perlu berpikir lebih dalam tentang dampaknya.

Dampak dari flexing atau pamer ini antara lain dapat berupa:

  1. Flexing dapat mempengaruhi persepsi diri dan kepercayaan diri kita. Ketika kita terus-menerus melihat orang lain memamerkan kehidupan mereka yang tampak glamor dan mewah, kita cenderung membandingkannya dengan kehidupan kita sendiri. Ini dapat menimbulkan rasa tidak puas dengan apa yang kita miliki dan merasa kurang berharga. Kita mungkin merasa tekanan untuk menunjukkan pencapaian kita secara terus-menerus, menciptakan siklus tanpa akhir di mana kita mencari pengakuan dari orang lain.
  2. Flexing juga dapat memperkuat kesenjangan sosial. Ketika seseorang secara eksplisit memamerkan kekayaan materialnya, mereka mungkin tidak menyadari dampaknya pada orang lain yang mungkin tidak memiliki kesempatan yang sama. Flexing dapat memperburuk perasaan cemburu dan frustrasi dalam masyarakat di mana kesenjangan sosial sudah ada. Hal ini dapat memperkuat divisi antara mereka yang memiliki dan mereka yang kurang mampu, dan dapat menyebabkan perasaan tidak adil dan ketidaksetaraan dalam masyarakat.
  3. Dorongan untuk selalu berbuat flexing ini dapat memicu sesorang untuk mencari kekayaan dengan cara yang tidak terpuji seperti mencuri, korupsi, menipu dan menggelapkan harta kekayaan orang lain dan lain sebagainya.

Namun, penting juga untuk menyadari bahwa flexing tidak selalu negatif. Beberapa orang menggunakan platform sosial media untuk membagikan keberhasilan mereka sebagai inspirasi bagi orang lain. Mereka mungkin berbagi perjalanan mereka menuju kesuksesan, mengungkapkan tantangan yang mereka hadapi, dan memberikan motivasi kepada pengikut mereka. Dalam konteks ini, flexing dapat menjadi sumber inspirasi dan dorongan bagi orang lain untuk mencapai impian mereka sendiri.

Sebagai individu yang menggunakan sosial media, kita perlu mengambil sikap yang bijaksana terhadap fenomena flexing. Dibawah ini hal-hal yang Penulis rekomendasikan  agar kita dapat tetap tegar menghadapi sikap suka pamer dari orang lain.

  1. Kita harus selalu mengingat bahwa apa yang kita lihat di media sosial sering kali merupakan seleksi dari kehidupan nyata orang lain, dan tidak selalu mencerminkan realitas yang sebenarnya.
  2. Kita harus berusaha untuk membangun kepercayaan diri dan apresiasi terhadap diri sendiri tanpa harus membandingkannya dengan orang lain.
  3. Kita juga dapat menggunakan platform sosial media sebagai sarana untuk berbagi kebaikan, inspirasi, dan pengetahuan yang bermanfaat bagi orang lain, daripada hanya memamerkan kekayaan dan pencapaian kita sendiri.

Dalam banyak kasus, flexing tidak murni berdasarkan keinginan untuk memamerkan kekayaan atau prestasi. Bagi beberapa individu, flexing dapat menjadi alat untuk memotivasi diri sendiri atau orang lain. Dalam dunia yang penuh persaingan, melihat prestasi seseorang dapat memicu semangat dan dorongan untuk meraih kesuksesan yang serupa. Jadi, flexing dapat memiliki aspek positif sebagai sumber inspirasi dan motivasi.

Flexing juga mencerminkan pergeseran dalam konsep nilai masyarakat. Kekayaan materi dan penampilan sering kali dianggap sebagai ukuran kesuksesan. Namun, seiring berkembangnya kesadaran sosial, terdapat gerakan yang mendorong untuk melihat nilai lebih dari sekadar kekayaan atau penampilan fisik. Flexing yang berfokus pada pencapaian intelektual, keberlanjutan, atau kontribusi sosial dapat memainkan peran penting dalam mengubah persepsi masyarakat tentang apa yang benar-benar berarti menjadi sukses.

Flexing juga memiliki dampak sosial dan emosional yang dapat beragam. Bagi yang merasa terinspirasi, flexing dapat memotivasi mereka untuk meningkatkan diri dan mencapai prestasi yang lebih tinggi. Namun, bagi yang merasa terintimidasi atau rendah diri, flexing dapat memperburuk perasaan tidak puas atau tidak berharga. Oleh karena itu, penting bagi individu yang terlibat dalam flexing untuk mempertimbangkan dampak yang mungkin terjadi dan mencoba untuk bertanggung jawab dalam berbagi pencapaian mereka.

Secara keseluruhan, fenomena flexing dalam budaya sosial media menyoroti kebutuhan kita akan pengakuan sosial dan validasi. Namun, kita perlu mengambil sikap yang bijaksana terhadapnya dan memahami dampaknya pada diri kita sendiri dan masyarakat. Dengan membangun kepercayaan diri yang sehat, menghargai apa yang kita miliki, dan menggunakan platform sosial media dengan cara yang bermanfaat, kita dapat menghindari jebakan perbandingan sosial dan menghargai keragaman dalam kesuksesan dan kebahagiaan manusia.

Sebagai penutup dalam essai ini perlu Penulis tegaskan bahwa flexing adalah fenomena yang kompleks dengan berbagai aspek. Sementara sering kali dihubungkan dengan tindakan pamer, ada juga sisi positif yang terkait dengannya. Flexing dapat berfungsi sebagai sumber motivasi dan inspirasi, merangsang pemikiran kritis tentang konsep nilai yang berlaku, dan memainkan peran penting dalam perubahan sosial. Meskipun demikian, penting bagi kita sebagai individu yang terlibat dalam flexing untuk mempertimbangkan implikasi sosial dan emosionalnya serta untuk mempromosikan penggunaan yang bertanggung jawab dari platform media sosial. Dengan pemahaman yang lebih dalam tentang fenomena ini, kita dapat membangun masyarakat yang lebih inklusif, saling mendukung, dan berdaya dorong bagi pertumbuhan individu dan kolektif.

 

*) Kasi Kominfo BPIC Kaltim